Sabtu, 07 Desember 2013

Bidadari-Bidadari Surga

novel islami, novel Indonesia, novel islam, novel best seller, kumpulan novel, kumpulan novel islami, novel islami terbaru

Mimpi Tak Sampai

Bidadari-Bidadari Surga ini pun tak kalah dahsyat, lagi-lagi Tere Liye mampu membawa kita dalam cerita nan cantik berbalut persaudaraan. Bercerita tentang satu keluarga yaitu Mamak Lainuri dengan kelima anaknya, Laisa, Dalimunte, Ikanuri, Wibisana dan Yashinta. Kak Laisa sebagai anak tertua, rela putus sekolah, demi pendidikan adik-adiknya dia rela bekerja keras di perkebunan kecil milik Mamak Lainuri di Lembah Lahambay.

Kak Laisa yang selalu berkorban untuk adik-adiknya, Kak Laisa yang tak pernah terlambat dan tak pernah lelah menjaga adik-adiknya. Saya sangat terpukau dengan cerita saat Kak Laisa sampai larut malam mencari Ikanuri dan Wibisana di hutan, hanya menolong adiknya. Awal sekali diceritakan Prof. Dalimunte sedang presentasi temuan barunya, Ikanuri dan Wibisana baru saja tiba di Eropa untuk usahanya dan Yashinta sedang observasi di Gunung. Keempatnya mendapatkan pesan dari Mamak Lainuri. Setelah membaca pesan itu, Dali langsung menghentikan presentasinya di Simposium Fisika Internasional, Ikanuri dan Wibisana yang baru tiba di Eropa langsung mencari penerbangan selanjutnya ke Indonesia, Yashinta pun langsung turun dari puncak gunung. Demi melihat Sang Kakak. Kak Laisa.
Kak Laisa tak pernah menangis di depan adik-adiknya. Tak sungkan memarahi dan memukul Dali, Ikanuri dan Wibisana yang ketauan bolos sekolah. Kak Laisa hanya ingin pendidikan yang terbaik bagi adik-adiknya. Hanya itu. Kesuksesan adik-adiknya adalah kebahagiannya
.

La Tahzan

Cover Buku La Tahzan (Jangan Bersedih)

Judul : La Tahzan ~ Jangan Bersedih
Penulis : DR. Aidh al-Qarni
Penerbit : Qisthi Press
Tahun terbitan : 2003
Dimensi : 15 x 24 cm
Tebal : 572 halaman + xxviii

 (Jangan Bersedih)

Buku La Tahzan merupakan salah satu buku self-help, buku petunjuk cara hidup, dan buku motivasi. Buku ini ditulis untuk siapa saja yang senantiasa merasa hidup dalam bayang-bayang kegelisahan, kesedihan dan kecemasan, atau orang yang selalu sulit tidur dikarenakan beban duka dan kegundahan yang semakin berat menerpa.
Buku ini akan mengatakan kepada pembacanya, "Bergembiralah dan berbahagialah!" atau Optimislah dan tenanglah!
Bahkan, mungkin pula ia akan berkata, “Jalani hidup ini apa adanya dengan ketulusan dan keriangan!”. Buku ini berusaha meluruskan berbagai kesalahan yang terjadi akibat penyimpangan terhadap fitrah saat berinteraksi dengan sunah-sunah Allah, sesama manusia, benda, waktu dan tempat.
Ada beberapa hal penting dari buku ini. Diantaranya adalah:
Pertama, buku ini ditulis untuk mendatangkan kebahagiaan, ketenangan, kedamaian, kelapangan hati, membuka pintu optimisme dan mengingkirkan segala kesulitan demi meraih masa depan yang lebih indah.
Buku ini merupakan pengetuk hati agar selalu ingat akan rahmat dan ampunan Allah, bertawakkal dan berbaik sangka kepada-Nya, mengimani qadha dan qadar-Nya, menjalani hidup sesuai apa adanya, melepaskan kegundahan tentang masa depan, dan mengingat nikmat Allah.
Kedua, buku ini mencoba memberikan resep-resep bagaimana mengusir rasa duka, cemas, sedih, tertekan, dan putus asa.
Ketiga, buku ini bersifat umum, alias untuk siapa saja. Singkatnya, untuk kaum muslim maupun nonmuslim. Pasalnya, pembicaraan dalam buku ini secara umum adalah berkaitan watak dan sifat naluriah dan persoalan-persoalan umum kejiawaan manusia.
Namun begitu, buku ini tetap menempatkan Manhaj Rabbani sebagai penyuluh.
Keempat, dalam buku ini pembaca tidak akan hanya menjumpai kutipan-kutipan pernyataan dari orang-orang Timur, tetapi juga dari orang Barat.

Sungguh, buku La Tahzan ini sangat bermanfaat. Buku ini dapat mengajak kita untuk tidak bersedih dan terus menjalani hidup sekaligus membuat hati kita tersentuh dengan beberapa syair yang menghiasinya. Selain itu, tips-tips untuk menjadi orang paling bahagia tersedia dalam buku ini dan siap untuk dipraktekkan. Buku La Tahzan juga menyajikan petunjuk-petunjuk yang tidak hanya bersifat duniawi saja tetapi juga bersifat ukhrawi. Jadi, buku La Tahzan pantas dibaca bagi siapa saja yang ingin lepas dari kesedihan dunia dan akhirat.

Rabu, 04 Desember 2013

Sekuntum RUH dalam MERAH

EveryOne have SECRET


Salah satu kesulitan penulisan fiksi di mana semua tokoh diceritakan dengan kata ganti pertama, AKU, adalah penggambaran setiap karakter secara jelas sehingga pembaca dapat langsung membedakan antara satu tokoh dengan tokoh lainnya. Naning Pranoto adalah salah satu penulis yang mampu melakukannya dengan baik di dalam bukunya, Sekuntum Ruh dalam Merah.

Dikisahkan, Anne Mary adalah seorang gadis yang tampaknya memiliki segalanya. Dia sangat cantik dan berasal dari keluarga terpandang. Namun karena terlalu dimanja, Anne Mary tumbuh menjadi seorang yang sangat egois, tidak bisa menerima kehadiran orang lain yang dianggapnya tidak sederajat dengan dirinya.
Di sisi lain, ada seorang gadis Jawa bernama Asri Asih, yang sangat bersahaja. Dia dibawa ke Australia oleh Diana Barnes, seorang pakar kebudayaan Jawa yang pernah tinggal bersama keluarga Asri ketika gadis itu masih kanak-kanak, dan menitipkan gadis sederhana itu di rumah Anne Mary. Sementara orang lain menerima kehadiran Asri Asih dengan gembira, tidak demikian halnya dengan Anne Mary. Dia merasa kesal karena di tengah-tengah kesederhanaannya, Asri justru memikat hati semua orang.
Tokoh ketiga adalah Ruh, atau roh yang semula berdiam di dalam tubuh Anne Mary, tapi karena tidak tahan dengan karakter dan gaya hidup gadis itu sehingga Ruh sering meninggalkan tubuh Anne Mary dalam kekosongan, dan akibatnya sungguh memiriskan hati. Perilaku Anne Mary menjadi tidak terkendali.
Tokoh lainnya adalah ayah Anne Mary, Dermot Quinn, seorang pengusaha anggur yang sangat sukses, namun sesungguhnya ia mengidap Oedipus Complex, mencintai ibu kandungnya sendiri, Breda Gallagher, yang dengan tangan dinginnya berhasil membangun bisnis keluarga yang sudah bangkrut.
Kekuatan Sekuntum Ruh dalam Merah selain tokoh-tokoh yang menarik, adalah berbagai pengetahuan yang diselipkan penulis yang memperkaya novel ini. Beberapa hal tentang minuman keras atau bermacam mitos dari beberapa suku bangsa bukan hanya sekedar tempelan belaka, namun berkaitan dengan kisah hidup para tokohnya.
Hanya ada sedikit kekurangan dalam buku ini, yaitu perpindahan yang kurang mulus dari karakter Anne Mary kepada karakter Asri Asih di akhir bab 5 dan awal bab 6. Pada paragraf awal bab 6, tokoh AKU yang seharusnya adalah Asri Asih, membawa karakter Anne Mary yang malas berpikir dan selalu memandang rendah orang lain, dan sifat asli Asri Asih muncul kembali pada paragraf ketiga. Selain itu, ada sedikit ketidaktelitian dalam penyebutan nama tokoh pembantu, yaitu pengasuh Moti, bayi Anne Mary, di halaman 255 adalah Elizabeth Wilson, sedangkan di halaman 295 dan 345 adalah Amanda Wilson.
Terlepas dari kekurangan kecil tersebut, Sekuntum Ruh dalam Merah adalah salah satu novel yang sangat sayang untuk dilewatkan oleh para penikmat buku. Dialog batin tokoh AKU yang berbeda-beda di setiap bab membawa pembaca menyelami berbagai sisi kehidupan, termasuk sisi kelam para tokohnya.


Selasa, 03 Desember 2013

"99 Cahaya di Langit Eropa"


            “Kemegahan Islam di Benua Ilmuan”


     Buku ini adalah catatan perjalanan atas sebuah pencarian. Pencarian cahaya Islam di Eropa yang kini sedang tertutup awan saling curiga dan kesalahpahaman. Untuk pertama kalinya dalam 26 tahun, aku merasakan hidup di suatu negara dimana Islam menjadi minoritas. Pengalaman yang makin memperkaya spiritualku untuk lebih mengenal Islam dengan cara yang berbeda. 

     Tinggal di Eropa selama 3 tahun adalah arena menjelajah Eropa dan segala isinya. Hingga akhirnya aku menemukan banyak hal lain yang jauh lebih menarik dari sekedar Menara Eiffel, Tembok Berlin, Konser Mozart, Stadion Sepakbola San Siro, Colloseum Roma, atau gondola gondola di Venezia. Pencarianku telah mengantarkanku pada daftar tempat-tempat ziarah baru di Eropa. Aku tak menyangka Eropa sesungguhnya juga menyimpan sejuta misteri tentang Islam. 

     Eropa dan Islam. Mereka pernah menjadi pasangan serasi. Kini hubungan keduanya penuh pasang surut prasangka dengan berbagai dinamikanya. Aku merasakan ada manusia-manusia dari kedua pihak yang terus bekerja untuk memperburuk hubungan keduanya.

     Pertemuanku dengan perempuan muslim di Austria, Fatma Pasha telah mengajarkanku untuk menjadi bulir-bulir yang bekerja sebaliknya. Menunjukkan pada Eropa bulir cinta dan luasnya kedamaian Islam. Sebagai Turki di Austria, Ia mencoba menebus kesalahan kakek moyangnya yang gagal meluluhkan Eropa dengan menghunus pedang dan meriam. Kini ini ia mencoba lagi dengan cara yang lebih elegan, yaitu dengan lebarnya senyum dan dalamnya samudra kerendahan hati.

     Aku dan Fatma mengatur rencana. Kami akan mengarungi jejak-jejak Islam dari barat hingga ke timur Eropa. Dari Andalusia Spanyol hingga ke Istanbul Turki. Dan entah mengapa perjalanan pertamaku justru mengantarkanku ke Kota Paris, pusat ibukota peradaban Eropa.

     Di Paris aku bertemu dengan seorang mualaf, Marion Latimer yang bekerja sebagai ilmuwan di Arab World Institute Paris. Marion menunjukkan kepadaku bahwa Eropa juga adalah pantulan cahaya kebesaran Islam. Eropa menyimpan harta karun sejarah Islam yang luar biasa berharganya. Marion membukakan mata hatiku. Membuatku jatuh cinta lagi dengan agamaku, Islam. Islam sebagai sumber pengetahuan yang penuh damai dan kasih.

     Museum Louvre, Pantheon, Gereja Notre Dame hingga Les Invalides semakin membuatku yakin dengan agamaku. Islam dulu pernah menjadi sumber cahaya terang benderang ketika Eropa diliputi abad kegelapan. Islam pernah bersinar sebagai peradaban paling maju di dunia, ketika dakwah bisa bersatu dengan pengetahuan dan kedamaian, bukan dengan teror atau kekerasan

Perjalananku menjelajah Eropa adalah sebuah pencarian 99 cahaya kesempurnaan yang pernah dipancarkan oleh Islam di benua ini. Cordoba, Granada, Toledo, Sicilia dan Istanbul masuk dalam manifest perjalanan spiritualku selanjutnya.

    Saat memandang matahari tenggelam di Katedral Mezquita Cordoba, Istana Al Hambra Granada, atau Hagia Sophia Istanbul, aku bersimpuh. Matahari tenggelam yang aku lihat adalah jelas matahari yang sama, yang juga dilihat oleh orang-orang di benua ini 1000 tahun lalu. Matahari itu menjadi saksi bisu bahwa Islam pernah menjamah Eropa, menyuburkannya dengan menyebar benih-benih ilmu pengetahuan, dan menyianginya dengan kasih sayang dan toleransi antar umat beragama.

       Akhir dari perjalananku selama 3 tahun di Eropa justru mengantarkanku pada titik awal pencarian makna dan tujuan hidup. Makin mendekatkanku pada sumber kebenaran abadi yang Maha Sempurna.

Aku teringat kata sahabat Ali RA:
Wahai anakku! Dunia ini bagaikan samudra di mana banyak ciptaan ciptaan Nya yang tenggelam. Maka jelajahilah dunia ini dengan menyebut nama Allah. Jadikan ketakutanmu pada Allah sebagai kapal kapal yang menyelamatkanmu. Kembangkanlah keimanan sebagai layarmu, logika sebagai pendayung kapalmu, ilmu pengetahuan sebagai nahkoda perjalananmu; dan kesabaran sebagai jangkar dalam setiap badai cobaan.(Ali bin Abi Thalib RA)